Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu

Murjangkung Cinta yang Dungu dan Hantu hantu Murjangkung kembali memeragakan kepiawaian Laksana sebagai pendongeng yang mahir meramu humor dan tragedi Majalah Tempo Jawaban untuk setiap pertanyaannya berloncatanseperti katak katak dalam film Mag

  • Title: Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu
  • Author: A.S. Laksana
  • ISBN: 9789797806446
  • Page: 383
  • Format: Paperback
  • Murjangkung kembali memeragakan kepiawaian Laksana sebagai pendongeng yang mahir meramu humor dan tragedi Majalah Tempo Jawaban untuk setiap pertanyaannya berloncatanseperti katak katak dalam film Magnolia Majalah Dewi Murjangkung ingin mengatakan bahwa teks fiksi sebaiknya membuka keran imajinasi para pembaca untuk memiliki duniadan atmosfer cerita yang khas Ha Murjangkung kembali memeragakan kepiawaian Laksana sebagai pendongeng yang mahir meramu humor dan tragedi Majalah Tempo Jawaban untuk setiap pertanyaannya berloncatanseperti katak katak dalam film Magnolia Majalah Dewi Murjangkung ingin mengatakan bahwa teks fiksi sebaiknya membuka keran imajinasi para pembaca untuk memiliki duniadan atmosfer cerita yang khas Harian Jawa Pos Mereka datang 243 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus Mula mula mereka singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak dari kampung Pecinan di tepi barat sungai lima tahun kemudian mereka kembali merapatkan kapal mereka ke pantai dan menetap di sana seterusnya Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari Sang Pangeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai Di sana ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal dan menghiasi dinding pagarnya dengan pucuk pucuk meriam Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut.Murjangkung Cinta yang Dungu dan Hantu Hantu adalah kumpulan cerpen kedua A.S Laksana setelah Bidadari yang Mengembara buku sastra terbaik tahun 2004 versi Majalah Tempo.

    One thought on “Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu”

    1. saya jarang baca fiksi.dan saya ambil buku ini karena covernya bagus. demikian juga cara disainer menandai tiap bab juga bagus: dengan ornamen vignet, sehingga memudahkan kita mengira-kita sudah selesai atau belumnya tiap cerpeni memang buku kumpulan cerpen, dan saya adalah pemalas dalam membaca cerpen yang panjang-panjang.cerpen adalah cerita pendek, dan cerpen pertama yang judulnya juga dipakai untuk judul buku ini pun pendek. didominasi oleh si "aku" pencerita, kita diberi sajian bagaimana ja [...]

    2. 3,5 bintangTadinya ingin memberi 5 bintang, tapi akhirnya dikorting 1,5 bintang karena makin lama penggambaran tokoh perempuan dalam cerpen-cerpennya nyaris selalu sama dan. saya nggak suka. Kalau bukan ibu rumah tangga yang baik, ya, dalam cerpennya rata-rata tokoh perempuan digambarkan sebagai makhluk yang cerewet dan sepertinya tidak bisa berlogika sebaik tokoh laki-lakinya, percaya takhyul, dll. Mungkin ini memang penggambaran masyarakat kita yang sebenarnya. Memang dalam cerpen-cerpen A.S. [...]

    3. Saya dapat buku ini dari Gagasmedia dalam rangka event #unforgotTEN #kadountukbloggerDari 9 buku yang dikirim, saya mencomot kumpulan cerpen ini karena direkomendasikan oleh proofreader-nya ^^Saya biasanya menghindari genre sastra karena langsung kebayang njelimetnya bahasa yang digunakan. Tapi, ternyata membaca buku sastra itu mengasyikkan.Ada cerpen yang bikin saya terbahak, ada yang bikin saya bergidik, ada juga yang bikin saya berkerut dan hampir meneteskan airmata. Kumpulan cerpen ini adala [...]

    4. hal yang ga terlalu aku suka adalah judul setiap babnya yang terlalu rumit. bikin aku susah mengingat cerita apa, judul yang manatapi, above all, semuanya oke. BANGET! buat kalian pencinta sastra dan dongeng, wajib baca ini!

    5. Ini perkenalan kedua saya dengan buku A.S. Laksana, tetapi ini kumcer pertama yang saya baca, sebab sebelumnya saya membaca buku nonfiksi beliau yang mengupas tentang menulis. Saya juga membaca beberapa cerpen A.S. Laksana yang bertebaran di media. Setelah membaca cerpen-cerpennya, saya mafhum kenapa banyak cerpenis muda yang menjadikan beliau kiblat dalam menulis. Saat membaca "Murjangkung", saya banyak berpikir tentang apa faedah sebuah cerita, baik itu cerita yang panjang ataupun yang pendek. [...]

    6. 4,5. Sempat bingung mau kasih nilai berapa, karena ada beberapa cerpen di buku ini yang menurut saya biasa saja. "Cerita Untuk Anak-anakmu" misalnya, ceritanya klise. A.S. Laksana selaku penulis pun bilang kalau cerita di cerpen itu klise. Yang menarik, dia mengatakan cerpen itu klise justru di dalam cerpen itu sendiri. A.S. Laksana memang ingin bermain-main dalam bentuk. Seolah dia ingin bilang, cerita klise sekalipun jika digarap dengan teknik, gaya, dan bentuk yang baik, maka cerita itu akan [...]

    7. Buku ini berisi kumpulan cerita pendek karya AS Laksana yang pernah ditampilkan di beberapa surat kabar. Di antaranya ada cerita pendek "Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis" yang sumpah kayanya pernah saya baca sebelumnya; mungkin pada masa kantor saya masih berlangganan Koran Tempo. Cerita pendek karya AS Laksana bernapaskan surealis dengan ciri kisah sehari-hari yang agak aneh dan nyeleneh. Saya kurang suka cerita pertama tentang Murjangkung, yang justru diangkat sebagai judul kump [...]

    8. Murjangkung adalah kumpulan cerita yang berisi 20 kisah pendek yang ditulis oleh A.S. Laksana. Kumpulan cerita sastra yang ada di dalam buku ini tidak mengusung tema tertentu, bahkan mungkin beberapa kisah mampu membuat pembaca berpikir keras saat membacanya. Seperti yang tertulis pada bagian sampul depan, buku ini berisi cerita-cerita tentang cinta - bahkan juga hal-hal yang berbau supernatural seperti hantu. Untuk mempermudahku menulis ringkasan untuk buku ini, aku akan menceritakan beberapa c [...]

    9. Ketika membaca buku ini saya sedang sakit. Semacam demam dan meriang. Tidak enak badan dan jiwa. Dan kamu harus hati-hati! Membaca buku ini dapat menggandakan apa pun yang kita rasakan, kurasa. Karena saya dalam keadaan sakit, maka saya merasa bertambah sakit membaca buku ini. Haha. Tetapi dari sekian buku cerita yang kubaca selama ini, buku ini yang paling lekat di pikiran. Pikiran saya sering lancar mengaitkan hal-hal sehari-hari dengan kata-kata yang kubaca di buku ini. Ini buku yang entah ba [...]

    10. Murjangkung, pembuka yang kurang meyakinkan dan terasa lambat. Tak ada yang spesial di bagian awal. Itu berubah drastis ketika harus menyelesaikan cerita kedua, ketiga, dst.Membaca kata perkata hingga halaman perhalaman sampai usai memang seperti kita sedang mendengarkan dongeng. Tapi ini dongeng yang harus disimak ketika sore hari dengan secangkir teh hangat dan udara cerah.Tak usah berpanjang lebar. Mas Sulak sukses membuatku harus ternganga dengan twist di akhir cerita. Bule mengatakannya den [...]

    11. Salah satu indikator yang bikin saya kesengsem sama sebuah novel/kumcer adalah ketika saya sangat kepingin bisa menulis sebaik penulis novel/kumcer tersebut. Dan Murjangkung adalah salah satunya! Aakkk! <3Baca Murjangkung, benar-benar seperti sedang mendengar A.S. Laksana mendongeng langsung kepada saya. Tapi, sebaiknya jangan dongengkan cerita-cerita dalam kumcer ini kepada anak-anak, atau mereka akan mimpi buruk. x))))Keren!Beberapa cerpen favorit saya: Dongeng Cinta yang Dungu, Kisah Batu [...]

    12. Jangan pernah pasang ekspektasi pada orang yang mengaku sembilan tahun vakum menulis, pun rasanya tidak berhak menghukumi sedemikian rupa orang yang mengaku sembilan tahun vakum menulis. Beberapa judul memang membikin kecewa, tapi yang bagus-bagus itu, bikin saya ingat sama Vonnegut yang sedikit Chekhov. Berhubung saya mau baca tapi belum punya Si Janggut Mengencingi Herucakra, ada yang berniat sedekah?

    13. Buku yang mengenalkanku pada AS Laksana. Hampir tidak ada kejutan yang begitu menggebu-gebu di setiap judulnya, seingatku. Tapi entah mengapa, lembar demi lembar mengalir habis begitu saja. Mungkin gaya bertuturnya, atau entah lain. Menarik!

    14. 4.5/5“Makanannya dimakan sendiri tahinya dibagi-bagi.”Buku ini berisikan 20 cerita-cerita pendek. Bisa dibilang hampir semua cerpennya bergenre komedi satir. Dan seperti review kumpulan cerpen seperti biasanya, izinkan saya untuk mengomentari cerpen-cerpennya satu per satu.Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit PerutCerpen pembuka ini bercerita tentang Murjangkung—raksasa berkulit bayi—dan pasukannya yang datang ke sebuah negeri dan mulai mendirikan “kerajaannya” sendir [...]

    15. Ini kumpulan cerpen A.S. Laksana pertama yang saya baca.Setelah selesai, saya bingungIni seperti gabungan gaya-gaya beberapa karya yang pernah saya baca.Kadang membuat saya ingat Seno dengan Sukab-nya (penulis memiliki Seno dan Alit). Kritik yang disampaikan membuat saya ingat pada penulis-penulis seperti Ahmad Tohari, Hamsad Rangkuti (sekilas dua penulis ini yang langsung saya ingat, haha). Djenar juga tebersit ketika melihat perumpamaan belatung yang digunakan. Sisi "aneh"-nya mengingatkan say [...]

    16. Ketika saya hendak mulai membaca buku ini saya berani bertaruh - dikarenakan reputasinya sebagai yang layak menang KLA - di buku ini pastilah bertebaran kosa kata seperti berak, tahi, muntah, burung, birahi, dan sejenisnya. Ranjang dan kakus selalu menjadi ruang menarik bagi karya sejenis, bukan? Sistem pembuangan depan dan belakang yang selalu mendesak dan membuat gila siapa saja yang belum menemukan tempat pelepasan itu saya yakini bakal ada di buku ini, dan tentu saja, saya tidak salah. Dan s [...]

    17. Murjangkung mewakili keduapuluh cerita di dalamnya sungguh mencitrakan cita rasa sebuah sastra Indonesia. Dibalut dengan tutur kata yang simpel, lugas, serta menarik-ulur beberapa pemakaian kata. Kalau boleh disandingkan, Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu agaknya bisa sedikit disetarakan dengan kumpulan cerpen serupa karya M. Aan Mansyur (Kukila, 2012). Dengan gaya bahasa yang sederhana, pemakaian diksi yang menggelitik, serta metafora-metafora yang apik, bacaan sastra pun rasanya di [...]

    18. EditedTidak banyak kumcer yang menurut gw memiliki alur yang cerdas (apalagi yang bisa gw "ikuti" maksudnya :D). Biasanya, kalo gak akhirnya gw yang kebingungan dengan maksud penulis, ya kisahnya gak nyampe sama nalar (o'on) gw *sungkem sama yang ngasih buku*A.S Laksana mendadak menyajikan cerpen-cerpen yang nggak umum. Baca satu cerpen beliau, ibarat dikasih appetizer, kemudian ada hidangan utama dan diakhiri dengan dessert yang kalo enggak manis ya asem-asem seger. Itu baru satu kisah. Masih a [...]

    19. Absurd. Yang kedua absurd. Dan seterusnya.Ini adalah kumpulan cerpen kedua yang mengusung keabsurdan setelah SKTLA nya Maggie Tiojakin. Dan apa yang tertinggal setelah cerpen terakhir ditutup? Lega. Kenapa lega? Well, karena saya akhirnya kelar juga membaca novel nominasi KLA 2013 ini tanpa saya skip hahaha. Setelah lega, tentu saja merasa absurd, seperti rasa di semua cerpen disini :DTerdiri dari 20 cerpen yang kesemuanya sudah pernah dipublikasikan di harian kota. Tak satupun cerpen pernah say [...]

    20. Selalu ingin membaca buku-buku yang berhasil masuk sebagai nominee KLA atau shortlist setelah pengumuman. Khusus buku ini baru punya setelah pengumuman, namun untuk pemenangnya kebetulan sudah dibaca sebelum list calon pemenangnya diumumkan. Bukan karena ribut-ribut setelah pengumuman pemenangnya tapi memang di kota ku belum tersedia. Nah karena ribut-ribut itu jadi tambah penasaran ingin membaca.Tapi ternyata teteup jadwal membacanya tertunda-tunda.m Laksana bercerita dengan guyon bahkan dengan [...]

    21. Ceritanya-ceritanya keren, dan membuktikan si AS Laksana ini memang seorang sastrawan yang sudah teruji karya-karyanya. Saya paling suka dengan cerita pertama, tentan sejarah pendirian Batavia yang lalu diplesetkan bak dongeng oleh penulis. Kalau saja saya tidak membaca Rahasia Meede, saya mungkin ngak ngeh kalau si akuntan dalam cerita ini adalah Jan Pietersen Coen, seorang kumpeni awal yang menduduki dan membangun Batavia. Dalam banyak cerita2 lain, Laksana juga turut mengangkat tema-tema seja [...]

    22. Saya percaya setiap penulis memiliki gaya berceritanya sendiri-sendiri, dan saya juga meyakini setiap pembaca mempunyai selera bacaannya masing-masing. Murjangkung buat saya seperti dongeng yang diceritakan terlalu terburu-buru (atau memang begini gaya becerita as laksana), dan mungkin juga karena ini pertama kalinya saya membaca karya beliau.Sebelumnya saya tertarik untuk membaca buku ini (lagi-lagi) karena review dan pendapat orang. Tapi ibarat minuman, Murjangkung tidak bisa mengatasi rasa ha [...]

    23. AS Laksana adalah salah satu penulis fiksi yang paling imajinatif yang pernah saya baca karya-karyanya. Seringkali ia membiarkan fakta-fakta dianalogikan dengan hewan-hewan seperti belatung, atau bahkan dengan sesuatu yang tidak nyata, seperti peri sampai raksasa. Baru setelahnya kita akan sadar bahwa itu hanya perumpamaan AS Laksana pada tokoh-tokoh yang sangat nyata, atau peristiwa yang pernah terjadi, semisal koruptor, kompeni, atau apa sebab banci bertingkah laku seperti banci.Murjangkung: C [...]

    24. Seperti judul bukunya, buku berisi 20 cerita pendek ini banyak mengisahkan cerita tentang hantu (atau lebih tepatnya, roh yang gentayangan) dan cinta manusia yang enggak biasa (saking dungunya?). Well, meski ada tokoh berwujud hantu, buku kumcer ini nggak bikin merinding kala dibaca. Malah justru sering bikin saya mengernyitkan dahi karena ceritanya yang seringkali nggak masuk akal, haha. Yup, seperti yang kita tahu, AS Laksana memang suka menuliskan kisah-kisah macam beginian (btw, sastra apa s [...]

    25. Kata 'Kau Tahu', digunakan dalam 15 dari 20 cerpen. Betapa membosankan! Lagi-lagi kita akan menemukan kata ‘Kau Tahu’. Entah disadari atau tidak oleh penulisnya, namun A.S. Laksana harus segera menghilangkan dua kata ini dari cerpen-cerpennya selanjutnya, atau aku akan jadi orang pertama yang hengkang dari daftar penggemar karyanya.Setiap penulis memang memiliki ciri khas, namun menggunakan dua kata yang sama secara terus-menerus dalam semua cerpen yang ditulis, tidak akan memberi ciri khas [...]

    26. akhirnya selesai juga membaca buku ini setelah membacanya dari pertengahan Oktober lalu :D. bukan tipe bacaan kesukaan saya, namun saya akan merasa bersalah jika tak selesai membaca buku-buku yang saya beli/pinjam. dan di tengah perjuangan saya membaca halaman demi halaman, saya menemui beberapa cerita yang (bisa dibilang) saya suka, seperti: Teknik Mendapatkan Cinta Sejati dan Kisah Batu Menangis. Saya pun tertawa saat membaca "Cerita untuk Anak-anakmu", teringat ramainya pemberitaan tentang ki [...]

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *